Perempuan Butuh Jiwa yang Cantik
Menjalani hidup sebagai orang tua tunggal (single parent) membuat Novita Sechan, 28, justru menjadi sosok yang realis. Perempuan pelukis yang memilih berkarir sekaligus berkesenian itu mantap berkonsentrasi membesarkan Zahwa Naylla Shakira, 3, putri tunggalnya.
NUNGKI KARTIKA SARI, Sidoarjo
Halaman penuh tanaman dan setiap sudut ruang berhias lukisan adalah ruang kerja Novi di rumahnya, Jl Brigjen Katamso, Waru. Ruang itu merupakan arena bagi Novi untuk mengeluarkan semua imajinasinya. “Di sini saya melukis dan melamun,” katanya sambil tersenyum.
Bakat seni sejak lahir membawa Novi terjun ke dunia seni hingga kini. Dia mengeluarkan unek-unek lewat lukisan. Meski tidak setiap waktu menghabiskan energi dan imajinasi untuk melukis, Novi mengaku telah melahirkan sedikitnya 300 lukisan.
Dengan karya-karyanya itu, Novi telah mengikuti berbagai pameran berskala regional maupun nasional. Even-even seni di Taman Budaya Surabaya dan Balai Pemuda Surabaya bukan hal asing bagi Novi yang alumnus Universitas Negeri Surabaya tersebut.
Dalam berkesenian, Novi mampu mengoptimalkan kondisi hati yang sedang bimbang, sedih, atau bahagia untuk menciptakan karya seni yang berbobot. Tidak perlu menunggu Minggu untuk berlibur di akhir pekan. Novi cukup duduk di depan kanvas dan mulai menggoreskan kuas. “Melukis adalah liburan versi saya,” ujarnya.
Salah satu lukisan Novi berjudul Camkan. Lukisan itu bercerita tentang sosok ibu. Bagi dia, sosok ibu adalah manajer kehidupan yang serbabisa, penuh inspiratif dalam kehidupan. Dalam lukisan tersebut, Novi menggambarkan empat perempuan menggendong anak dan seorang anak sedang naik tangga.
“Tidak perlu modal khusus menjadi ibu, hanya jiwa yang cantik,” tutur perempuan yang memilih jadi single parent sejak tiga tahun lalu itu. Salah satu sisi yang ditumbuhkan dalam diri seorang ibu adalah kecantikan seorang perempuan dari dalam (inner beauty).
Dari gaya-gaya lukisannya, Novi tampak sangat menyanjung hak dan kewajiban figur perempuan. Hal itu juga tampak dalam beberapa lukisan lain, yang berjudul Terpasung dan Mbok Jamu.
Keasyikan melukis, ternyata, mendukung aktivitas Novi salah seorang pegawai perusahaan kontraktor di Surabaya. Dia sadar menjadi wanita karir dua kali lebih sulit daripada pria. Sebab, wanita karir harus sukses memainkan peran ganda di dalam dan di luar rumah. Mereka sanggup berjuang mengemban tugas dan tanggung jawab besar.
Novi tidak ingin putrinya berhasil sebagai wanita karir, tapi gagal sebagai ibu. Dia tidak ingin Zahwa tumbuh sebagai perempuan yang tanpa perencanaan masa depan. “Kami ingin punya rencana bersama untuk masa depan,” tuturnya sambil memangku sang buah hati, Zahwa. (roz)
Radar Sidoarjo, Selasa, 18 Des 2007
hallo mba novi……begitu tegar jiwa seorang wanita ngak hanya lembut aja!!!salut nih mba……salam kenal ya……wlo pun dunia kita ngak sama…….tapi sama wanitanya ya!?selamat berkarya sukses selalu….
as’kum mbak novi…salam kenal. kebetulan kita punya minat sama. saya pelukis, pemula.
pameran bareng yuk…
atau melukis bersama…
tapi saya di medan. kapan2 kalo mau main ke medan, saya akan senang hati ajak mbak keliling medan lihat2 galeri dan sanggar seni =)